comment 0

Dibalik keindahan fungsi arsitektur Bauhaus

Para pengikut Bauhaus percaya bahwa desain selayaknya menuruti hukum-hukum alam yang berlaku sehingga dapat berfungsi dengan efektif. Kita sebut saja para pengikut-pengikut tersebut sebagai “scientific architect“. Golongan arsitek ini merancang tidak dengan landasan intuisi, tetapi lebih menitik beratkan kepada sesuatu yang teruji. Mereka berkawan dengan sains dan memanfaatkan kawannya dalam rancangan arsitektur. Persahabatan antara estetika dan sains itulah yang kini dikenal sebagai dasar dari arsitektur yang berwawasan lingkungan.

Ketika di Harvard, Walter Gropius, pendiri Bauhaus, mendukung usaha pelestarian lingkungan sebagai respon terhadap “suburban sprawl” dan masalah lingkungan yang mengikuti fenomena tersebut. Laszlo Moholy-Nagy, mendedikasikan rancangan yang harmonis dengan alam, teknologi, dan manusia. Sedangkan Herbert Bayer, mengembangkan rancangan komunikasi visual yang menyentil kewajiban setiap individu untuk berlaku efektif dan efisien untuk menjaga kelestarian alam. Orang-orang yang disebutkan diatas tidak sekedar menciptakan rancangan yang mengawang-awang, tetapi membumikannya pada kondisi sosial dan kebutuhan manusia,

Poster rancangan Herbert Bayer

Poster rancangan Herbert Bayer

Pemahaman desain dari Bauhaus tersebut belum usang dan terus dikembangkan oleh generasi desainer masa kini. Perkembangan ilmu pengetahuan di abad 21 membawa ide Gropius berkembang jauh melampaui apa yang mungkin ia bayangkan. Para peneliti di seluruh dunia berhasil menggabungkan aspek ekologi dalam proses merancang yang terkomputerisasi. Sistem tersebut memudahkan arsitek untuk mengevaluasi kebutuhan material, konsumsi energi, serta kondisi thermal sebelum bangunan tersebut didirikan. Sementara itu, beberapa kelompok desainer juga mengembangakan teori “bio-mimicry” yang menciptakan rancangan bangunan yang seolah-olah mengemulasi proses-proses biologis di alam. Hirokazu Suemitsu dan Yoko Suemitsu (SUEP architect) menciptakan shading devices yang meniru proses evaporasi helai-helai daun sehingga dapat mendinginkan temperatur udara di rumah.

shading system. Courtesy of SUEP

Shading system. Courtesy of SUEP

Water spraying from the shading devices.

Water spraying from the shading devices.

Front view of the house

Front view of the house

Tantangan manusia di abad 21 adalah menjawab permasalahan lingkungan dengan solusi yang efektif dan efisien. Dalam situasi tersebut, arsitek berperan besar untuk menciptakan rancangan bangunan yang berwawasan lingkungan tanpa mengesampingkan keindahan.

main reference: From Bauhaus to eco-house- A history of ecological design by Peder Anker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s