comment 0

Filosofi Otot

Judulnya kayak judul film kopi-kopian ya.

Ada hal menarik yang gw amati dan pelajari dari hobby baru gue. Jadi, sejak beberapa bulan lalu, dari awal musim dingin tepatnya, gue makin rajin ke gym, untuk olah raga, angkat beban, lari, dsb., pokoknya kegiatan dalam ruangan yang bisa mengeluarkan keringat. Kebetulan di kampus gue ada fasilitas gym gratis. Gue pikir-pikir, membership fitness center di Indonesia bisa sampai jutaan rupiah, ini ada fasilitas gratis kok gak gue manfaatkan. Maka fitness gratis pun jadi salah satu motivasi untuk nge-gym. Awalnya gue sendirian aja. Tapi karena obrolan makan siang, mau gak mau ya kegiatan gw itu jadi topik pembicaraan. Bermula dari topik pembicaraan saat makan siang itu lah beberapa teman jadi tertarik untuk ikutan. Akhirnya jadi rame deh.

Sulit banget membuat olah raga menjadi sebuah rutinitas. Rasanya beraaat banget. Komitmen gw di awal-awal ngegym ya at least gw 3 kali seminggu lah ke gym (Senin-Rabu-Jumat). Latihan yang gue lakuin di minggu-minggu awal juga sempat membuat gue kesakitan, pegel-pegel, dan males ke gym lagi. Hal kayak gitu lumrah karena otot belum terbiasa. Tapi, setelah kurang lebih 3 minggu menjalani rutinitas ke gym, gak terasa psikis dan fisik gue mulai terbiasa. Gue merasa lebih bugar dan segar. Lebih bisa berkonsentrasi. Selain itu, perubahan secara fisik di bulan pertama jg terlihat. Gue merasa postur badan gue lebih baik dari sebelumnya. Akhirnya, nge-gym yang awalnya coba-coba itu jadi sesuatu yang ‘addicted’ dan sekarang gue minimal 5 hari ke gym dan menghabiskan waktu 1-2 jam disana.

Menariknya, teman-teman yang ikutan pada datang dan pergi. Ada yang baru sekali latihan, terus pegal-pegal, kemudian gak datang-datang lagi. Ada teman yang nanyain terus kapan aku ngegym biar dia bisa join bareng, sampe gue capek jawabnya. Tapi ya cuma sekedar di mulut saja-dia gak pernah datang. Ada yang menganggap gue sebagai personal trainer-nya. Jadi dia cuman ngikutin yang gue lakuin, apa yang gue suruh, beban nunggu dipasangin, dan gak hafal-hafal gerakan-gerakan yang gue ajarin. Gue gak habis pikir. Kalau orang yang punya motivasi pasti akan cari tahu sendiri, inisiatif untuk pelajari gerakan-gerakan latihan. Dan yang pasti, I train for my own sake, for my own health. Ada juga teman yang awal-awal motivasinya gede banget bahkan sampai membayangkan otot-ototnya bakal segede Kaesang dalam beberapa bulan ke depan. Tapi, jangankan ototnya gede, untuk datang rutin aja belum tercapai. Maybe, they haven’t got the motivation yet and that kind of activity is not their thing,  or not something they like…yet.

Mengamati perilaku teman-teman itu jadi refleksi untuk diri gue sendiri: Kita semua pasti,di suatu titik dalam perjalanan hidup kita, akan punya sesuatu yang dituju. Perjalanan mencapai tujuan itu dimotori oleh mimpi, berbahan bakar motivasi, passion, dan konsistensi, serta dengan do’a sebagai pelumasnya. Lima hal itu lah yang menurut gue bisa jadi kendaraan kita mencapai apa yang ingin kita tuju. Lalu, bagaimana kalau kurang salah satunya? Mungkin… kamu bisa sampai tujuan, tapi kamu gak bahagia. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s